BREVET A

BREVET.

Istilah ini sudah ga nyentrik lagi untuk didengar oleh teman-teman yang berstatus mahasiswa jurusan pajak atau fiskal. Tapi, bagi saya atau teman-teman yang belajar  hukum dan jurusan ekonomi bisa saja belum familiar dengan istilah brevet. Jadi kalau dengar kata brevet itu bisanya kasih mimik wajah yang bingung, hahaahahaa…

Oke, saya mau share sedikit tentang pengertian brevet menurut saya itu apa yaa. Well, menurut saya, brevet itu kursus yang diperuntukkan siapa saja yang tertarik dengan  pajak. Jadi, brevet ini memperbolehkan lulusan non pajak untuk belajar pajak. Tapi, menurut pengalaman saya, peserta yang banyak mengikuti brevet ya lulusan ekonomi baik akuntansi atau manajemen. Tapi, tak apa kalau kalian yang bukan mahasiswa atau sarjana ekonomi belajar brevet. Malah menantang bukan? Dan kalian akan masuk golongan anti-mainstream seperti saya, wkwkwkkkk

Selanjutnya, pasti timbul pertanyaan kenapa dinamakan Brevet A? Apa sih yang dipelajari dalam brevet? Bagaimana ujiannya? Ada hitung2annya gak sih? Ak coba paparin secara sederhana ya tentang Brevet A

Kalau sejarah kenapa ada nama Brevet A , saya kurang tahu yaa, kawans.. Tapi, saya pikir untuk memudahkan setiap peserta yang ingin mengambil brevet. Coba kalau dinamakan Brevet C atau Brevet I . Pasti akan ada pertanyaan seperti mana brevet sebelum Brevet I? Alhasil, peserta pasti bingung dan (mungkin) segan atau takut untuk ambil brevet karena banyak tahapannya.

Dalam Brevet A, kita akan belajar pajak yang menyangkut orang pribadi (OP). Apakah ada hitung2an? Ya, ada. Tapi jangan khawatir. Kita akan dikenalkan dulu teori suatu pajak tertentu. Seperti, kapan pajak tersebut timbul, kenapa pajak tersebut harus ditanggung oleh wajib pajak, berapa besar tarifnya, dll. Baru, abis itu, kita belajar bareng-bareng untuk menghitung besar pajak yang terutang.

Soal hitungan, semuanya akan pakai contoh soal rekayasa. Tapi, cara mengisinya di kita akan dikasih formulir beneran, yaitu Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) baik yang tahunan atau masa (bulan). SPT tahunan itu untuk Pajak Penghasilan orang pribadi (PPh OP) dan PPh potong pungut ( PPh OP yang dipotong atau dipungut oleh badan atau korporasi). Sementara itu, SPT masa akan diisi untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Lalu, ada lagi materi pajak selain PPh dan PPN? Ya. Ada tiga lagi.

Pertama, materi yang dipelajari yaitu Ketentuan Umum tentang Perpajakan (KUP). KUP ini merupakan ketentuan induk dari semua jenis pajak. Kalian bisa buka dan baca undang-undangnya dgn googling yaa… Jadi, kita belajarnya bakal umum sekali, seperti prosedur pelaporan SPT, sanksi, kewajiban dan hak yang dimiliki oleh wajib pajak dan otoritas pajak, dll.

Kedua, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Terkait dengan PBB, kita belajarnya agak sedikit berbeda nih. Kita ga akan diberikan SPT untuk diisi karena sistem pemungutan PBB kan official tax system, alias pihak yang menghitung besaran pajak yang terutang itu pegawai Dirjen Pajak (DJP). Tapi, meski demikian, kita juga perlu  tau dari mana sumber besaran pajak terutang. Kenapa memangnya?

Objek pajak PBB ini bentuknya ga main-main. Maksudnya, yaitu objek pajak yang tercakup dalam PBB yaitu bangunan, berupa apartemen dan rumah, dan P3, yang meliputi area perkebunan, perhutanan, dan pertambangan yang luasannya bisa berhektar-hektar. Apabila dikaitkan dengan NJOP maka kemungkinan besar jumlahnya bakal tinggi per tahunnya karena NJOP susah untuk turun yaa…

Ketiga, bea meterai. Untuk bea meterai ini mudah banget. Yang dihitung adalah besaran bea materai yang dikenakan untuk dokumen-dokumen tertentu. Jadi, kalian tinggal menghapal saja jenis dokumennya akan dikenakan bea meterai berapa. Apakah dokumen tersebut akan dikenakan Rp.3000 atau Rp.6000?

Jadi, kalau dirunut dari keterangan di atas, Brevet A itu merupakan kursus yang mempelajari pajak yang diperuntukan orang pribadi tanpa menggunakan sistem elektronik (alias isi SPT secara manual, wkwkwkkk). Selanjutnya, jenis pajak yang diajarkan yaitu, KUP, PPh OP, PPh potong/pungut (potput), PPN, dan PBB.

Lalu kapan ujiannya? Ujian biasa dilakukan per setiap mata pelajaran selesai. Misalnya, pertemuan PBB sebanyak 2x maka ujiannya langsung dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Atau kalau pertemuan PPN 3x maka pertemuan ke-4 akan ada ujian tentang PPN. Jadi, kita masih ingat lah ya materi yang diajarkan oleh instruktur brevet.

Okee deeh, sekian yaa ulasanku tentang Brevet A. Ohya, ak share Brevet B di post yang berbeda ya, biar ga kepanjangan post nya yang ini, wkwkwkkkk….

Selamat mempertimbangkan untuk belajar Brevet A, ya kawans 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s