0

Australia… Matur Nuwun :)

Ada yang menarik belajar dengan orang bule khususnya orang Australia (karena saya mendapatkan kesempatan dari Pemerintah sana maka dapat dibilang saya menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan ilmu dari mereka).

Awalnya, saya takut dan was-was. Kemampuan bahasa saya ala kadarnya. Sementara saya harus berinteraksi dengan mereka setiap hari kecuali weekend. Lost in space? Alhamdulillah enggak.

Mereka itu baaiiiiiik bangeeet. Sangat suportif dalam apapun. Baik akademis maupun personal matter. Personal matter disini maksudnya bukan masalah galau dengan pacar atau gebetan ya. Tapi, lebih, ke bagaimana kita mengambil jalan atau menentukan hidup ke depan. Mau seperti apa. Mereka itu teman diskusi yang baik dan luaaaas bangeeet pikirannya. One thing what i like most is they have anti-mainstream realistic opinion. Banyak hal yang bikin saya kaget dan ngerasa bahwa hidup ya harus begitu.

Mereka ga pernah kasih kata sinis atau celaan ke saya. Apalagi kalau saya nggak bisa ngerjain tugas. Selalu dicari kelebihan tugas saya. Baru, kelemahan tugas saya dibahas secara objektif.

Hari ini, teman saya share link yang bisa bikin mata saya brambangan. Maaf ya kalau lebai. Saya hanya bisa bilang “Alhamdulillah”. Bersyukur bahwa bisa merasakan pendidikan yang mereka berikan. Bahwa dukungan positif itu sangat bermakna. Bahwa senyuman dan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas pekerjaan yang kita selesaikan itu bisa membuat kita jauh lebih produktif dan totalitas. Bahwa sifat kritis dari mereka itu mulai menular ke saya 😀

*Note : nuwun, temanku Acid sudah share link ini di akun medsos sebelah. Ini positif bangeeeet lho.

Link

 

 

Advertisements
0

Tembus dalam dua kali daftar

Beasiswa? Hal yang nggak akan pernah basi untuk dibahas oleh siapapun khususnya para scholarship hunters.
Saya bukan termasuk pemburu beasiswa. Hanya dua kali saya coba apply beasiswa. Alhamdulillah dan langsung lolos. Anyway, mungkin saya kurang oke ya kalau mau kasih saran karena pengalaman saya soal beasiswa ini masih dangkal bangeeet. Tapi, boleh lah, saya mau sharing sedikit.

Saya tertarik dengan salah satu blog *aduh saya lupa namanya* tapi kurang lebih begini bunyi blognya “Beasiswa itu seperti buah di musim buah. Akan banyak sekali keberadaannya di satu pohon. Hanya orang-orang yang tekun yang berhasil memperolehnya* (aduh maaf, kalau redaksionalnya gelepotan).

Nah, pertanyaannya, apakah saya termasuk orang yang tekun? Nggak tahu juga saya, hehehe. Maksudnya, saya bukan orang yang tekun untuk mencoba seluruh beasiswa yang ada. Bahkan, saya juga belum pernah mencoba daftar beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah negeri sendiri. Yang saya tahu, saat itu, saya pengen sekolah ke luar negeri meski saya nggak ngerti tingkat parah nggak bisa isi aplikasinya (hahahahaaaa! Gubrak!!).

Aplikasi saya kedua ini menyasar ke Australia. setelah gagal di tahap awal untuk nembus Amerika. Alright, saya kurang persiapan saat itu. Akhirnya dalam waktu singkat ada beberapa tahap yang saya bisa lakukan sendiri diluar bantuan dari Encik Guru saya 😀
1. Saya pun melakukan research super cepat kekuatan roket. I tried to find out websites which discussed about how tips and tricks to apply a scholarship (waktu itu any kind of scholarship ya). Meski saya mau apply untuk master, tapi, saya nggak boleh merendahkan tingkat master.

2. Saya pun mulai menulis untuk isi aplikasinya. Merangkai kalimat itu nggak gampang. Trust me! Never underestimate to writing field. Writing is art and it means a large amount of time and energy that you will spend. One for sure, you must have your own identity and goal. Don’t ever think to copy and paste others’ ideas and write them. You will be lose! Besides, you have to follow instructions that have been given. Kalau kamu punya teman yang pernah daftar untuk beasiswa yang sama kayak kamu apply, contact them. Nggak usah malu. Ask them apa aja yang kamu bisa lakukan.
3. Kamu bisa minta bantuan dari dosen kamu untuk check spelling dan atau grammar kamu. I did it!!. Soalnya makna dan ketepatan untuk jawab pertanyaan itu penting.

4. Finally, triple or more to re-check. Make sure kalau kamu sudah lengkapi semua berkas yang diminta. Jangan pernah nego dengan dirimu sendiri. Let say, kamu diminta untuk kirimkan legalisir ijazah dan transkrip without further explanation. Lalu, saran saya sih kamu harus kirim legalisir ijazah dan transkrip yang asli (alias cap basah). Jangan kirim yang fotokopian cap-nya. Irit? Ya semuanya pasti akan bilang kalau bisa sih irit aja. Tapi, kesempatan nggak datang dua kali. Karena, percaya nggak percaya, akan timbul pikiran yang nggak-nggak dan kamu akan gelisah setelah kamu kirim bukan yang cap basah. Nyeselnya pasti setengah idup!

Perlakukan beasiswa itu dengan caramu yang paling baik. Or in other words, treat the scholarship with your full respect, copied from my Encik Guru’s words.

5. The last but not least, berdoa! Dia Yang Maha Tahu akan beri segalanya yang paling baik untuk dirimu. Saya sangat yakin bahwa sekolah itu ibadah. Jadi, kalaupun kamu belum berhasil anggap aja professor di universitas yang kamu tuju itu beliau masih sibuk atau nggak ada mata kuliah yang akan bagus untuk kamu. Tapi, kalau kamu lolos, welcome to the next level. Prepare yourself for having an interview and a foreign language test. Good luck!