Only have one choice

Ada pengalaman yang berharga ketika saya dapat beasiswa. Saya harus mengikuti pelatihan bahasa dan budaya. Well, saya nggak berani bilang saya ini yang bego-bego amat untuk bahasa Inggris (takut dikeroyok sama teman-teman satu kelas ketika salah satu mereka me-recognise ini blog saya T__T) tapi memang ada lah unsur yang harus ditingkatkan lebih tinggi lagi bahkan lebih tinggi dari Gn. Semeru wkwkwkwkkk. Terus apa dong berharganya?

Berharganya adalah di satu sisi lainnya, saya diterima sebagai dosen permanen di salah satu PTS di Jakarta (tapi bersyukurnya adalah SK saya belum terbit dan saya belum tanda tangan kontrak apapun, Alhamdulillah). Jadi, secara bersamaan, saya harus mengikuti pelatihan dan mengajar di week days dan tempat yang berbeda.

Bagi waktu? Jelas sulit banget. Tapi, kalau seumpama dipaksain pasti bisa. Tapi, minta ijin lah yang paling sulit dari semuanya.
Dapat ijin? Pengennya sih. Tapi, saya mendapatkan kabar buruk. Atasan paling tinggi di perguruan tinggi itu hanya memberikan saya dua pilihan: (1) ambil beasiswa itu dan saya diminta untuk mengundurkan diri karena mereka tidak mengenal kata pemecatan; ATAU (2) lepas beasiswa itu, mengajar dan coba lagi untuk beasiswa S3.

Pilihan sulit, pada awalnya. Bahkan, saya sudah menjatuhkan harga diri saya dengan memberikan tawaran dimana perguruan tinggi tersebut nggak akan rugi sedikit pun. Tapi, nggak mempan pada akhirnya. Belum jodoh, kalau kata orang tua.

Apa yang selanjutnya saya lakukan? Hanya doa dan sembahyang agar seluruh ketakutan dan kekhawatiran saya dihilangkan. Kenapa? Karena saya hanya dihadapkan pada satu pilihan yang akan menentukan nasib saya ke depannya seperti apa. Apa saya akan balik menjadi jobless dan hanya sebagai candidate master student? Atau saya akan tetap menjadi lecturer dan memegang status candidate student? Sementara apabila saya lepas beasiswa ini, berarti saya menyia-nyiakan kesempatan yang nggak akan dua kali datang ke saya karena saya yakin ratusan pelamar beasiswa ini menangis ketika mereka mendapat kabar bahwa mereka gagal.

Sebenarnya saya hanya pasrah sih dan mengikuti kata hati setelah saya doa dan sembahyang. Entah kenapa, hal-hal yang berkaitan dengan sekolah itu seluruhnya indah sekali. Meski, urus dokumennya banyak bangeeet bahkan ribeeeet. Belum lagi, liat jadwal beajarnya yang bikin kepala cekot-cekot padahal baru aja baca belum ngejalanin (wkwkwkk). Tapi, finally, saya memutuskan untuk memilih sekolah dan melepaskan status saya sebagai dosen (saat itu). Sedih, anehnya, saya nggak merasakannya sama sekali. Atau senang? Anehnya, bukan senang tapi saya merasakan sangat lega.

Hidup itu cuma ada satu pilihan. Saya pun selalu dihadapkan dengan hal kayak itu. Take it or leave it! Nggak bisa dua tangan saya memegang dua hal yang beda. Penuh. Saya harus punya satu tangan kosong untuk berpegangan atau merapikan hal yang saya bawa di tangan saya yang satunya. Jadi, salah satunya harus dibuang atau dikembalikan agar dua tangan saya tidak penuh.

In the end, setelah saya ambil pilihan untuk meninggalkan tempat kerja itu, saya dapat hikmahnya. Apa? Tepat dua minggu setelah saya resign, ada panggilan untuk saya jadi calon dosen di perguruan tinggi yang luar biasa besar dan everyone must know it. Note : padahal hasilnya juga belum tahu, apa saya lolos atau nggak?wkwkwkwkwkwkkk. Yang penting, girang dan tertawa dulu lah, hehehe.

Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s