A.U.S.T.R.A.L.I.A : million thanks for you!!

Ini pencapaian saya ke tiga yang emosional dari hidup saya. Bahkan pencapaian saya kali ini adalah top rengkingnya! Paling awal alias nomor satu! Setelah saya dinyatakan lulus program Strata I Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan diterima untuk menjadi dosen di sana untuk berbagi ilmu dengan adik-adik saya.

The name of it is AUSTRALIA AWARDS SCHOLARSHIP 2015😀😀

Yeees. Mata saya pun berkaca-kaca dan saya hanya bisa mengucapkan Allahu Akbar berkali-kali hingga mata saya panas dan buliran air turun di pipi saya saat saya membacanya melalui email tepat di hari favorit saya dan ternyata surat penerimaan saya untuk beasiswa itu sudah disiapkan dari awal bulan ini. Bulan Februari.

Beasiswa. Saya lahir dan besar di keluarga yang familiar dalam menerima beasiswa. Papa saya. Saya masih ingat, ketika SD, papa saya menerima beasiswa dari kantornya untuk sekolah Master di Gadjah Mada. Bahkan, saya masih teringat rasa bangga ketika saya bercerita dengan teman-teman saya, saat itu, bahwa papa saya dibiayain kantornya untuk sekolah Master. Belum lagi, saya punya kakak sepupu dan sejak umur 5 tahun yang baru pulang dari St. Louis, Amerika Serikat karena pakde saya sekolah di US dengan memperoleh beasiswa dan hawa Amerika nya itu kentaaaal banget (tiap weekend, saya main ke rumah kakak sepupu saya dan nonton film anak-anak dari Amerika).

Ditambah lagi, tante saya juga mendapatkan beasiswa untuk Master-nya dari Colorado, USA. Dan saat summer, beliau pulang ke Indonesia untuk datang ke rumah papa mama untuk cerita tentang sekolahnya yang kalau musim dingin bisa liburan main ski *sumpah ini iri banget*.

Saya masih ingat semuanya itu. Rasanya manis. Rasanya hangat. Rasanya baru masih kemarin.

Sekarang giliran itu tiba ke saya. Persiapan yang nggak main-main. Hingga 2 laptop saya tidak dapat digunakan kembali akibat saya belajar TOEFL gila-gilaan. Tidur pagi karena berjibaku dengan konferensi internasional agar saya nggak kagok dengan bahasa. Ditambah, ada kewajiban mengajar yang padat. Waktu pun tak cukup 24 jam. Ingin rasanya 48 jam sehari.
Dimulai tahun 2013 hingga tahun 2014. Tahun perjuangan saya untuk merintis dan memulai semuanya. Puluhan orang menganggap rendah ide saya. Saya cuma bisa ketawa dan dalam hati hanya bilang “Liat saja nanti!”.

Akhirnya, tidak ada yang sia-sia. Beasiswa identik dengan penghargaan. Penghargaan bahwa kemampuan kita dianggap ada. Penghargaan bahwa bagi siapa yang menerima dialah yang punya potensi untuk berkontribusi untuk negaranya. SAYA DAPATKAN.
Euforianya hanya untuk beberapa hari saja. Sampai sehari sebelum pendidikan dimulai.

Saya nggak punya modal apapun. Hanya Bismillah. Sisanya, kerja keras, berdoa, ketekunan, disiplin, dan semangat🙂

Ini kali ketiga, saya lihat mata papa berbinar dengan semangatnya. Setelah Universitas Gadjah Mada bisa membuat mata beliau berbinar. Anak perempuan papa ini memang nggak bisa kasih janji; tapi akan selalu berbuat yang paling baik. Nggak perlu janji tapi doa kerja doa kerja dan semangaaaat!😀 (dan masih bisa kendalikan ambisi meski papa sering ngingetin saya jangan jadi orang yang ambisius)

Terima kasih untuk Pemerintah Australia. Terima kasih untuk kepercayaannya. Saya nggak akan sia-siakan kepercayaan yang sudah diberikan ke saya. Well, Agustus tahun lalu, saya ketemu dengan Wakil Rektor PTS di Jakarta (PTS : Universitas Pra***** Mu***)  (beliau senior saya karena dari UGM dan sempat mengenyam sekolah di  USA (Master programme di Wisconsin University, Madison) dan Australia (Doctoral programme di Sydney University, Sydney). Beliau bilang ke saya, “beasiswa untuk sekolah Hukum di luar negeri itu beasiswa untuk sekolah yang paling susah karena hanya orang-orang pintar lah yang bisa diterima. Benar-benar pintar”. Saya masih ingat air mukanya ketika lihat muka saya. Muka saya yang saat itu merasa memerah panas karena saya baru saja apply untuk beasiswa ini.

Saya melamar beasiswa ini untuk jurusan Hukum. Mengutip dari perkataan Wakil Rektor. Apakah saya termasuk orang pintar? Saya hanya bilang “Nikmat Allah SWT itu tak terhingga. Saya nggak mau mendustainya🙂 Saya cuma bisa bersyukur dijadikan orang yang beruntung🙂

Tak sabar menunggu bulan April 2015. Saatnya saya menjadi calon mahasiswa kembali. Welcome back to jeans, sneakers, t-shirt, sweater, and backpack. I miss all of you. I do.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s