Dokter Kulit dan Wajah Sensitif

Sudah dari tahun lalu, saya sedang melakukan pengobatan karena kulit muka saya bermasalah. Memang, kata mama saya, saya ini terlahir dengan memiliki kulit sensitif. Sangat sensitif. Turunan dari almarhum eyang kakung (bapak dari mama). Satu contoh sederhana nih, nyamuk baru nempel dan mungkin dia baru 3 sedot darah saya, bentolnya udah lebar amat T_____T merah-merah dan lama sembuhnya. Hal ini tambah diperparah, saya kena alergi debu dan yang sangat memprihatinkan kalau perjalanan jauh melalui jalan darat! Mantaaab! Goresan merah-merah di kulit sering ditemukan karena iritasi T____T

Nah,khususnya bagian muka. Ini lebih parah. Saya dari kecil sampai sekarang nih, nggak pernah berani pakai make up layaknya kebanyakan perempuan. Make-up ratusan ribu, lupakan! Kulit saya nggak akan kompromi dengan mereka semuanya itu; kecuali lipstick atau lipgloss. Itupun, hanya merek tertentu seperti B*dy Sh*p yang paling ampuh untuk bibir saya atau N*vea. Lebih parahnya, lagi, tahun lalu menjadi tahun yang menyedihkan bagi kulit muka saya. Jadi kalau mau pake bedak pun ya bedak bayi. Bedak tabur. *oke, kali ini, saya sirik sama mama saya yang bisa pakai bedak C*nique atas rekomendasi dokter kulit* saya pengeeeen, pak dokter biar keliatan dandan kaya mbak-mbak kebanyakan disana

Yaa, kulit saya didiagnosa terkena stress akibat jam tidur kurang baik. Memang, tahun kemarin, hidup saya ibaratnya seperti binatang campuran kuda dan kerbau. Bawa beban yang banyak. Jam kerja panjang. Nggak hanya di kantor. Tapi, di rumah juga. Gadget pun tak bisa terlepaskan. Akibatnya, jam tidur hanya 4-5 jam. Jerawat pun nggak kunjung sembuh. Bahkan tumbuh di area yang biasanya nggak pernah tumbuh. Seperti pipi dan alis T_____T.

Mama saya pun panik. Gimana nggak? Kerjaan saya on-air di kelas memaksa untuk punya muka yang enak dipandang sama mahasiswa. Jadinya, mama sibuk cari dokter kulit yang oke. Sebelumnya, saya sudah berobat. Tapi, jerawat saya memang timbul tenggelam kaya pelampung. Ditambah lagi, saya harus minum antibiotik yang membuat lambung saya perih dan saya mual serta pusing!😦 Singkat kata, saya berobat di dokter kulit yang terakhir berkat pencarian mama.

Maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama beliau. Saya belum minta izin. Tapi, pengobatan ini sudah berlangsung kurang lebih 6 bulan. Alhamdulillah, banyak perubahan. Tapi, tetap saja, orang awam yang melihatnya pasti akan tetap kaget juga. Beberapa jerawat dan tanda merah banyak bertebaran di muka bulat saya. Obat oles dan banyaknya anjuran dari beliau pun saya jalani dengan senang hati. Banyak hal yang membedakan dokter kulit saya ini dengan dokter kulit saya sebelumnya. Setiap kali, saya kontrol, beliau menjadi sosok yang sangat tegas, detil dan bahkan kalau mengajak saya bicara selalu menatap lekat mata saya *serasa diinvestigasi* tapi juga ngebanyol *khusus yang ini pas di akhir sebelum kontrol selesai dan biasanya ngomongin soal cowo, hahahahaha* Oke, beliau selain menjadi dokter kulit; juga, dokter yang mengerti kegalauan tentang problema jenis kelamin pasiennya ini😀
Selama saya kontrol, banyak hal anti mainstream yang saya laporkan. Mulai dari agenda jam tidur, jam kerja di kantor dan bagaimana ritmenya, asupan makanan, hingga penggunaan sarana transportasi untuk pergi ngantor. Ditambah lagi, ada satu hal yang saya sukai. Beliau tidak memberikan larangan apapun untuk makanan! Aaaah, selama ini, saya selalu mendapatkan pantangan makanan dari dokter sebelumnya *bahkan saya pernah hampir tiap hari saya mam bubur sampai lemas tak berdaya* agar jerawat saya nggak muncul dan itu buat saya terganggu.

Singkat kata, saya masih harus menjalani obat jalan, atur jam tidur dan hal-hal anti mainstream lainnya yang diharuskan. Bahkan mulai 6 bulan yang lalu, jam 23.00 itu jam paling malam untuk saya tidur. Bahkan jam 22.00, saya sekarang sudah di atas bed; dan akibatnya, saya harus mengubah ritme kerja saya. Sekarang, jerawat pun sudah mulai menghilang dan bila muncul pun nggak separah sebelum berobat dan bekas jerawat yang merah-merah masih harus diobat lagi. Saya masih harus bersyukur bahwa kulit saya termasuk yang cukup cepat untuk regenerasinya kata pak dokter.

Memang, kulit muka itu paling sensitif dibanding kulit tangan atau kaki. Dan berbahagia lah, orang-orang yang punya kulit muka “bandel”😀

Pak Dokteeer, makasiiiiiii yaaa.. Dyah bakal rajin kontrol dan pakai obatnya sampai habis😀😀😀 Janji.. Janji.. Janji biar cepat sembuh..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s