Wajahmu kini dan esok : Pendidikan di Indonesia

Sekarang bulan Mei, dan buat saya pribadi, bulan ini bulan masa depan untuk seluruh anak-anak di Indonesia *saya berharap untuk seluruh meski kenyataannya masih ada saja anak-anak yang belum bisa merasakan hal ini*

PENDIDIKAN! Ya, satu kata, singkat, jelas dan banyak arti. Konon katanya, suatu negara akan menjadi suatu negara yang hebat dengan kemampuan sumber daya manusianya! Saya setuju dengan pernyataan itu. Bukan sumber daya alam yang banyak dan berlimpah yang menjadi poin utama! Tapi, sumber daya manusia-lah yang menjadi poin utama karena sumber daya manusia yang hebat yang bisa mengelola sumber daya alam.

Saya cukup sedih melihat, mendengar dan membaca berita yang berkaitan dengan pendidikan di negeri ini. Meski saya bukan pengamat pendidikan. Dari adanya kekerasan *yang tampaknya sudah menjadi berita tiap tahunnya* yang terjadi akibat senioritas, tingkat kelulusan dan nasib para guru honorer yang terkadang terliput media ketika melakukan demonstrasi meminta pengangkatan statusnya bahkan ada satu pernyataan yang agak miris *saya lupa tapi saya pernah baca* bahwa untuk dosen-dosen yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri bahwa ketika mereka-mereka kembali, mereka akan tersingkir atau “dibuang” karena akan menjadi ancaman bagi dosen-dosen lainnya yang tidak mengenyam pendidikan di luar negeri. Sungguh menyedihkan!

Entahlah siapa yang salah disini, saya tidak mau memperdebatkan. Dimulai dari kurikulum yang terlalu padat *well, setidaknya saya mulai merasakan untuk pulang jam 15.00 sejak SMP karena tiap harinya cukup banyak mata pelajaran yang diajarkan dan saya harus membawa banyak buku *2 tas buku setiap hari** hingga “suatu ketakutan terbesar yang muncul tiap tahunnya” yaitu standar kelulusan yang tinggi Ujian Nasional dan diterapkan ke semua daerah *dari daerah di ibukota hingga di kota terpencil*, padahal masih banyak daerah yang belum sama kualitas mengajarnya. Saya terus terenyuh ketika melihat di TV bahwa  satu sekolah baik siswa maupun guru-gurunya solat berjamaah, berdoa meminta agar anak-anak didik mereka lulus, dan saling meminta maaf. Bahkan tak jarang banyak siswa-siswa itu menangis ketika berdoa agar bisa lulus karena tingginya nilai kelulusan yang harus mereka peroleh. Bersyukur masih ada paket-paket lainnya yang disediakan. Tapi, apakah itu bisa menjamin ketenangan bagi siswanya? Orangtua siswa? Guru-guru? Semoga iya!

Pada dasarnya dosen dan guru itu memiliki beban berat yang sama. Dari mereka lah, bangsa ini dibentuk! Guru TK, SD, SMP, dan SMU! Mereka lah yang membentuk cara berpikir anak-anak dan dari mereka lah, nilai-nilai tentang sikap itu dikenalkan. Guru-guru itu juga memiliki beban yang besar agar anak-anak didiknya dapat lulus dengan nilai yang baik dan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang paling tinggi yaitu belajar ke perguruan tinggi. Berbeda dengan dosen, dosen juga harus dituntut untuk mengenyam pendidikan dengan strata paling tinggi di dunia ini yaitu program Doktor.  Intinya adalah menjadi guru dan dosen itu butuh banyak perjuangan. Materi. Tenaga. Pikiran. Waktu. Semuanya jadi satu. Plus status yang masih terombang-ambing. Bersyukur, sekarang sudah ada sertifikasi sehingga penghidupan guru mulai berubah. Tapi, saya berharap sertifikasi itu akan merata pada akhirnya. Mengapa? Saya pribadi selalu berpendapat, guru itu pengabdian yang paling luar biasa setelah ibu kandung. Guru itu pasti selalu punya keinginan untuk berbagi, karena kalau pelit yang bukan guru namanya. Satu lagi, nggak akan ada yang jabatan Presiden, Menteri, Ketua Lembaga, Anggota Dewan, kalau nggak ada yang namanya dosen dan guru. Jadi, bisa dibayangkan beratnya beban dan suatu pengharapan kembali oleh dosen dan guru untuk dapat dihargai keberadaannya dan profesinya dengan imbalan yang pantas dan memang sudah menjadi HAKNYA!

Oleh karena itu, saya berharap sekali, pendidikan di Indonesia ini lebih baik. Saya berharap kurikulum yang padat yang memberikan pemandangan anak-anak SD membawa tas yang besar untuk banyak membawa buku akan berubah lebih sederhana. Saya berharap semakin menyejahterakan guru-gurunya baik dari finansial maupun non finansial. Saya berharap seluruh guru, dosen, calon dosen, dan calon guru diberi kesempatan yang besar untuk bisa terus memperbaharui ilmunya. Saya berharap tidak akan ada lagi kekerasan di sekolah, bahkan harus ada sanksi yang tegas. Saya berharap tidak ada lagi siswa-siswa yang belajar di luar kelas akibat sengketa lahan sekolah dengan pemilik lahannya. Saya berharap tidak ada lagi, satu kelas dalam satu sekolah dan hanya satu guru. Saya berharap tidak ada lagi siswa yang kena air hujan ketika di ruang kelas ketika belajar atau belajar di lantai karena tidak ada meja dan kursi di kelas. Kalau harapan saya pribadi ya, semoga pendidikan di Indonesia tidak hanya mengutamakan nilai di atas kertas! Tetapi, nilai usaha dan nilai kejujuran serta bakat dan potensi tiap anak juga harus diperhatikan! Semoga pendidikan di Indonesia menjadi pendidikan dengan wajah yang cantik, tampan, bersahabat, dan menenangkan semuanya. Baik anak-anak, orangtua, guru, dan dosen. Semoga…

Hidup Pendidikan di Indonesia🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s