0

Film Kartun Favoritku

Mulai minggu ini dan minggu-minggu seterusnya *bahkan sudah jadi ritme teratur saya*, tiap harinya saya heboh. Nyiapin banyak hal dari uprek-uprek units dan parts untuk persiapan minggu depan, nyari-nyari bahan dengan deadline tanggal paling awal bulan depan dengan bahasa bukan bahasa ibu bahkan proyek besar untuk dua bulan depan! Huaaah! Senang, capek, lumayan stressful dan deg-degan ini jantung saya. Belum lagi proyek kecil yang semoga jadi proyek berkelanjutan dan bisa dinikmati oleh semua pihak 🙂 *akibatnya oke, weekend bakal susah banget dinikmati dengan tenang alias masih kerja terus via kamar*

Makanya saya butuh obat untuk penghilang perasaan heboh di dalam diri saya. Salah satunya adalah film kartun. Oke, film ini sebenarnya film lama yang sudah dibuat tahun 2009 cuma lisensi-nya baru diperoleh oleh salah satu tv swasta beberapa bulan terakhir ini. Saya sendiri lebih banyak liat di youtube

Masha and the Bear

Aaaaaaaaaaaaaaahhhhaaaaa,saya senaaaaaaaaaaaang sekali!! Sukaaaaaa! Ga bisa berhenti senyum dan ketawa! Bahkan saya suka menyenandungkan lagunya meski liriknya nggak tau! Oke,Masha nyanyi dengan bahasa Rusia (yang saya sendiri juga butuh konyaku Doraemon untuk bisa niru dan ngerti bahasa Rusia..hehehehe

Well,balik ke Masha and the Bear. Tingkah Masha ini bener-bener heboh banget ya. Sosok yang pemberani, nakal, usil, aktif sekali, senang membaca dan menulis, dan dia mau bertanggung jawab untuk menyelesaikan perbuatannya kalau si Beruang sudah marah besar karena perbuatan Masha dan satu lagi, Masha sayaaang sekali sama Beruang!

Kalau si Beruang ini, sahabat Masha yang serba bisa! Dari memasak, menjahit, bertukang, bercocok tanam, memancing, dan bermain sirkus (memang ceritanya Beruang ini dulu beruang sirkus). Beruang ini sayaaaaang sekali dan jarang marah kecuali Masha sudah kelewatan nakalnya..hehehehe..

Satu hal yang bisa saya ambil dari kartun ini adalah Satu atau sedikit sahabat yang mengerti kita itu sangat berarti daripada banyak teman yang baik dan dekat dengan kita jika ada maunya atau yang berbentuk serigala berbulu tupai *bukan dua serigala, sahabat Masha yang jauh jauh lebih baik!*

Makasiiih Masha and the Bear! (plus kelinci, tupai, landak, dan serigala) Tiada hari tanpamu 🙂 🙂

Masha and the Bear (wolgens.com)

Masha and the Bear (wolgens.com)

0

Yogyakarta ke Solo *acara Seminar Internasional*

Kemarin, kali keduanya saya berangkat ke Solo guna menghadiri acara seminar internasional. Ya,teman dekat saya mengajar Hukum Internasional di sana dan saya diberitahukan informasi dan langsung cuus tanpa pikir panjang. Setelah mengurus seluruh administrasi pendaftarannya, saya pun mulai merancang keberangkatan saya.

Memang agak sedikit berlebihan, namun acaranya cukup pagi rupanya jam 08.30 dan saya pun tidak punya rencana untuk menginap sehari sebelumnya. Saya pun browsing via internet untuk tahu jam berapa kereta berangkat di pagi hari. Alhamdulillah ada! Jam 08.00 ada jadwal keberangkatan kereta. Jam 07.00 saya berangkat ke stasiun Tugu Yogyakarta dan sampai disana 07.30. Beli tiket dan ternyata saya dapat kereta Sriwedari non AC! Agak kaget sih, tapi, yasudahlah gpp. Yang penting saya berangkat dengan estimasi saya sampai di Solo jam 09.00 *telat 30 menit dari jadwal acara seminar*.

Kereta pun berangkat jam 08.00 lebih sedikit! Saya dapat tempat duduk *eniwei, saran saya, lebih baik naik kereta dari stasiun Tugu kalau mau dapat tempat duduk untuk kereta Non AC* dan kereta pun tidak terlalu penuh meski cukup ramai. Pemandangan pun dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang mungkin ada acara resmi juga *mereka memakai jaket almamater*, orangtua dan anaknya yang ingin plesiran, ataupun pekerja yang tiap akhir minggu pulang ke Solo karena mereka bekerja di Yogyakarta

Alhamdulillah, lancar dan perjalanan pun berhenti di stasiun Solo Balapan pukul 09.00 lebih sedikit *tapi nggak sampai 30 menit*. Keluar dari stasiun Solo Balapan, saya mulai berpikir untuk mengatur perjalanan ke UNS (Universitas 11 Maret Surakarta). Saya diberitahu oleh teman kuliah saya, saya bisa naik Bis Atmo. Oke, skenario saya pertama : saya naik Bis Atmo dari depan stasiun Solo Balapan *note : bis lewat di depan persis Stasiun Balapan (bukan berlawanan arah) dan saya akan tanya apakah bis akan turun di kampus karena saya lupa Bis Atmo jurusan mana (ini saya lakukan ketika saya datang untuk seminar kali pertamanya ke Solo tapi saat itu saya ingat jurusan Bis Atmo). Tapi, Sabtu kemarin rupanya saya tidak beruntung untuk menemukan bis. Saya tunggu hampir 15 menit dan saya mulai gelisah karena sudah hampir 1 jam acara seminar dimulai.

Saya berpikir, skenario 2 harus jalan. Saya akhirnya memutuskan naik taksi. Alhamdulillah, sopir taksi nya baik sekali. Saya sampai di kampus setengah sepuluh lebih sedikit. Untung jalanan di Solo tidak ramai. Jadinya taksi yang saya naiki tidak terlalu pelan jalannya.

Saya sampai di kampus, jam 09.30 lebih sedikit dan menuju venue *untung saya sudah hapal dengan lokasinya*. Setelah saya menandatangani daftar hadir dan diantar panitia untuk memasuki ruang auditorium *note: mahasiswa UNS baik dan ramah sekali kepada tamu seminar bahkan salah satu mahasiswa berjalan dan menghampiri ketika taksi yang saya naiki berhenti di depan ruang auditorium dan menyapa saya sambil mengucapkan salam dan tersenyum*, saya pun mencari tempat duduk yang enak posisinya.

Alhamdulillah, ternyata saya melupakan sesuatu! Waktu 30 menit pertama ada sambutan dari pihak kampus dan ketika saya duduk, acaranya pun baru akan dimulai! Saya pun tidak ketinggalan satu materi pun. Apalagi ada salah satu narasumber yang saya senangi dan beliau berasal dari salah satu negara di Asia Selatan. Beliau humble, smart, dan punya pengalaman luas! *beliau bekerja untuk salah satu lembaga di United Nations*

Sungguh, saya mengucapkan terima kasih ke teman dekat saya atas suguhan ajakan ilmu yang indah sekali! Bukan hanya topik seminar yang menyenangkan dan bisa mengisi otak saya, akan tetapi juga menyuguhkan pemandangan tingkah laku mahasiswa selaku panitia yang ramah dan sopan kepada tamu seminar.

Males juga kan kalau datang ke seminar *sudah dari tempat yang jauh* eh panitianya apalagi mahasiswanya bertingkah laku yang nggak sopan dan ramah kepada tamu seminar.

Next time, kalau saya ada waktu dan saya diberitahu, saya akan usahakan untuk datang apabila ada seminar di kampusnya 🙂   Terimakasih ya,sistaa 🙂

0

Wajahmu kini dan esok : Pendidikan di Indonesia

Sekarang bulan Mei, dan buat saya pribadi, bulan ini bulan masa depan untuk seluruh anak-anak di Indonesia *saya berharap untuk seluruh meski kenyataannya masih ada saja anak-anak yang belum bisa merasakan hal ini*

PENDIDIKAN! Ya, satu kata, singkat, jelas dan banyak arti. Konon katanya, suatu negara akan menjadi suatu negara yang hebat dengan kemampuan sumber daya manusianya! Saya setuju dengan pernyataan itu. Bukan sumber daya alam yang banyak dan berlimpah yang menjadi poin utama! Tapi, sumber daya manusia-lah yang menjadi poin utama karena sumber daya manusia yang hebat yang bisa mengelola sumber daya alam.

Saya cukup sedih melihat, mendengar dan membaca berita yang berkaitan dengan pendidikan di negeri ini. Meski saya bukan pengamat pendidikan. Dari adanya kekerasan *yang tampaknya sudah menjadi berita tiap tahunnya* yang terjadi akibat senioritas, tingkat kelulusan dan nasib para guru honorer yang terkadang terliput media ketika melakukan demonstrasi meminta pengangkatan statusnya bahkan ada satu pernyataan yang agak miris *saya lupa tapi saya pernah baca* bahwa untuk dosen-dosen yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri bahwa ketika mereka-mereka kembali, mereka akan tersingkir atau “dibuang” karena akan menjadi ancaman bagi dosen-dosen lainnya yang tidak mengenyam pendidikan di luar negeri. Sungguh menyedihkan!

Entahlah siapa yang salah disini, saya tidak mau memperdebatkan. Dimulai dari kurikulum yang terlalu padat *well, setidaknya saya mulai merasakan untuk pulang jam 15.00 sejak SMP karena tiap harinya cukup banyak mata pelajaran yang diajarkan dan saya harus membawa banyak buku *2 tas buku setiap hari** hingga “suatu ketakutan terbesar yang muncul tiap tahunnya” yaitu standar kelulusan yang tinggi Ujian Nasional dan diterapkan ke semua daerah *dari daerah di ibukota hingga di kota terpencil*, padahal masih banyak daerah yang belum sama kualitas mengajarnya. Saya terus terenyuh ketika melihat di TV bahwa  satu sekolah baik siswa maupun guru-gurunya solat berjamaah, berdoa meminta agar anak-anak didik mereka lulus, dan saling meminta maaf. Bahkan tak jarang banyak siswa-siswa itu menangis ketika berdoa agar bisa lulus karena tingginya nilai kelulusan yang harus mereka peroleh. Bersyukur masih ada paket-paket lainnya yang disediakan. Tapi, apakah itu bisa menjamin ketenangan bagi siswanya? Orangtua siswa? Guru-guru? Semoga iya!

Pada dasarnya dosen dan guru itu memiliki beban berat yang sama. Dari mereka lah, bangsa ini dibentuk! Guru TK, SD, SMP, dan SMU! Mereka lah yang membentuk cara berpikir anak-anak dan dari mereka lah, nilai-nilai tentang sikap itu dikenalkan. Guru-guru itu juga memiliki beban yang besar agar anak-anak didiknya dapat lulus dengan nilai yang baik dan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang paling tinggi yaitu belajar ke perguruan tinggi. Berbeda dengan dosen, dosen juga harus dituntut untuk mengenyam pendidikan dengan strata paling tinggi di dunia ini yaitu program Doktor.  Intinya adalah menjadi guru dan dosen itu butuh banyak perjuangan. Materi. Tenaga. Pikiran. Waktu. Semuanya jadi satu. Plus status yang masih terombang-ambing. Bersyukur, sekarang sudah ada sertifikasi sehingga penghidupan guru mulai berubah. Tapi, saya berharap sertifikasi itu akan merata pada akhirnya. Mengapa? Saya pribadi selalu berpendapat, guru itu pengabdian yang paling luar biasa setelah ibu kandung. Guru itu pasti selalu punya keinginan untuk berbagi, karena kalau pelit yang bukan guru namanya. Satu lagi, nggak akan ada yang jabatan Presiden, Menteri, Ketua Lembaga, Anggota Dewan, kalau nggak ada yang namanya dosen dan guru. Jadi, bisa dibayangkan beratnya beban dan suatu pengharapan kembali oleh dosen dan guru untuk dapat dihargai keberadaannya dan profesinya dengan imbalan yang pantas dan memang sudah menjadi HAKNYA!

Oleh karena itu, saya berharap sekali, pendidikan di Indonesia ini lebih baik. Saya berharap kurikulum yang padat yang memberikan pemandangan anak-anak SD membawa tas yang besar untuk banyak membawa buku akan berubah lebih sederhana. Saya berharap semakin menyejahterakan guru-gurunya baik dari finansial maupun non finansial. Saya berharap seluruh guru, dosen, calon dosen, dan calon guru diberi kesempatan yang besar untuk bisa terus memperbaharui ilmunya. Saya berharap tidak akan ada lagi kekerasan di sekolah, bahkan harus ada sanksi yang tegas. Saya berharap tidak ada lagi siswa-siswa yang belajar di luar kelas akibat sengketa lahan sekolah dengan pemilik lahannya. Saya berharap tidak ada lagi, satu kelas dalam satu sekolah dan hanya satu guru. Saya berharap tidak ada lagi siswa yang kena air hujan ketika di ruang kelas ketika belajar atau belajar di lantai karena tidak ada meja dan kursi di kelas. Kalau harapan saya pribadi ya, semoga pendidikan di Indonesia tidak hanya mengutamakan nilai di atas kertas! Tetapi, nilai usaha dan nilai kejujuran serta bakat dan potensi tiap anak juga harus diperhatikan! Semoga pendidikan di Indonesia menjadi pendidikan dengan wajah yang cantik, tampan, bersahabat, dan menenangkan semuanya. Baik anak-anak, orangtua, guru, dan dosen. Semoga…

Hidup Pendidikan di Indonesia 🙂