“Menyikapi Hidup” ala Darwis Tere Liye

Saya salah satu penggemar bang Tere Liye..Meski saya nggak pernah ngaku di comment bang Tere..Hehehehehe..Tapi,bener lho! Di akun Facebook saya, saya adalah peng-like akun beliau..
Buat sebagian orang, mungkin agak terkaget-kaget dengan status-status yang dibuat mereka..Tapi, tidak dengan saya! Saya termasuk orang yang penyetuju setiap status bang Tere..

Cara beliau memandang hidup ini memang benar-benar bisa dipakai dan dipegang.. Satu lagi yang saya suka yaitu karena saya muslim, saya sangat suka cara beliau memandang hidup dengan memasukkan Al Qur’an dengan cara yang ringan dan “ngena” di hati serta logis sangat logis..

Ada satu status beliau yang saya suka.. Semoga beliau nggak marah atau keberatan kalau status beliau saya kutip dan share via blog saya

*Pengumuman seluruh dunia

Nabi Yakub, adalah ayah Nabi Yusuf. Semasa kecil, Yusuf ditinggalkan oleh kakak-kakaknya yang iri di dalam sumur tua, lantas mengarang kisah kepada Ayah mereka bahwa Tusuf diterkam srigala dengan membawa pakaian dengan darah (palsu).

Sedih sekali Nabi Yakub kehilangan anak tersayangnya. Berpuluh tahun dia merindukan anaknya. Belum cukup dengan itu semua, Bunyamin, anaknya yang lain juga ditahan di negeri Mesir. Mata Nabi Yakub yang terlalu sering menatap kejauhan, menerawang, memikirkan anak2nya tersebut bahkan berubah menjadi putih, dan butalah dia. Berat sekali kehilangan dua anak.

Nah, yang menarik adalah, apakah Nabi Yakub berkeluh kesah?

Dalam surah Yusuf 86 jelas ditulis: “Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”

Silahkan buka kitab suci, baca kisah2 terbaik di dalamnya, maka sempurna semua jawaban orang2 terbaik adalah: hanya kepada Allah-lah aku mengadukan kesusahan dan kesedihan, tempat berkeluh kesah.

Manusia itu memang sifatnya berkeluh kesah, itu sudah dikunci dalam Al Qur’an juga. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan berkeluh kesah kepada yang menerima semua pengaduan, atau berkeluh kesah kepada manusia–yang terkadang justeru menambah rumit masalah.

Apapun pilihan kalian, please pastikan, kita tidak berkeluh kesah di Facebook, Twitter, di jejaring sosial. Oh Allah, bagaimana mungkin kita berkeluh kesah secara massif di dunia maya? Apa gunanya? Untuk mencari perhatian? Puas? Jadi plong? Hentikanlah memamerkan kesedihan, kegalauan. Itu jelas, memang hak setiap orang mau ngapain saja di dunia ini. Tapi pikirkanlah dengan baik. Sungguh, tidak ada ruginya berpikir.

*Huaaah ngenaa banget buat sayaa setelah baca status tersebut! Percaya atau tidak, status-status dari bang Tere ini pelan-pelan mengubah mindset saya lho! :)*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s