0

P and P

Bulan Agustus itu bulan kemerdekaan bagi Indonesia. Peringatan untuk para pahlawan yang gugur di medan perang.

 

Upacara jadi agenda resmi yang selalu dikerjakan oleh negeri ini. Saya pun selalu ngikutin liputan upacara bendera di Istana Negara (kalau nggak pengibaran ya penurunan bendera).

Senang lihat anak-anak muda berprestasi jadi anggota tim pengebar bendera. Pintar sudah tentu. Tapi, mereka pasti sudah punya daya juang yang tinggi. Ga mau kalah sama mereka, saya pun merayakan peringatan hari ini dengan belajar IELTS (gubrak!!)wkwkwkwkwk.

Yaa, meski umur ga semuda mereka, tapi semangat nggak kendor laah. Kalau saya nggak bisa jadi tim pengibar bendera merah putih di Istana Negara, boleh lah, saya jadi tim mahasiswa yang akan berangkat sekolah ke negeri orang untuk dapat ilmu yang nantinya bisa diajarkan di negeri sendiri..hehehehe.. Jadi untuk memeringati hari kemerdekaan negeri saya, saya angkat pena dan kertas😀

 

0

Australia… Matur Nuwun :)

Ada yang menarik belajar dengan orang bule khususnya orang Australia (karena saya mendapatkan kesempatan dari Pemerintah sana maka dapat dibilang saya menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan ilmu dari mereka).

Awalnya, saya takut dan was-was. Kemampuan bahasa saya ala kadarnya. Sementara saya harus berinteraksi dengan mereka setiap hari kecuali weekend. Lost in space? Alhamdulillah enggak.

Mereka itu baaiiiiiik bangeeet. Sangat suportif dalam apapun. Baik akademis maupun personal matter. Personal matter disini maksudnya bukan masalah galau dengan pacar atau gebetan ya. Tapi, lebih, ke bagaimana kita mengambil jalan atau menentukan hidup ke depan. Mau seperti apa. Mereka itu teman diskusi yang baik dan luaaaas bangeeet pikirannya. One thing what i like most is they have anti-mainstream realistic opinion. Banyak hal yang bikin saya kaget dan ngerasa bahwa hidup ya harus begitu.

Mereka ga pernah kasih kata sinis atau celaan ke saya. Apalagi kalau saya nggak bisa ngerjain tugas. Selalu dicari kelebihan tugas saya. Baru, kelemahan tugas saya dibahas secara objektif.

Hari ini, teman saya share link yang bisa bikin mata saya brambangan. Maaf ya kalau lebai. Saya hanya bisa bilang “Alhamdulillah”. Bersyukur bahwa bisa merasakan pendidikan yang mereka berikan. Bahwa dukungan positif itu sangat bermakna. Bahwa senyuman dan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas pekerjaan yang kita selesaikan itu bisa membuat kita jauh lebih produktif dan totalitas. Bahwa sifat kritis dari mereka itu mulai menular ke saya😀

*Note : nuwun, temanku Acid sudah share link ini di akun medsos sebelah. Ini positif bangeeeet lho.

Link

 

 

0

Mood Booster

Find your own mood booster. Any kind that will give you a relax time and make you smile.

 

Song. Novel. Game. Sport.

 

I’ve chosen song and novel to be my mood booster. Tulus, HIV, Zedd, Clean Bandit, Jess Glynne, Maliq and D’essentials, Taylor Swift and now, I’ve been interested in reading novel “Twenties Girl” after finished “Carrie’s Song”.

 

0

Tembus dalam dua kali daftar

Beasiswa? Hal yang nggak akan pernah basi untuk dibahas oleh siapapun khususnya para scholarship hunters.
Saya bukan termasuk pemburu beasiswa. Hanya dua kali saya coba apply beasiswa. Alhamdulillah dan langsung lolos. Anyway, mungkin saya kurang oke ya kalau mau kasih saran karena pengalaman saya soal beasiswa ini masih dangkal bangeeet. Tapi, boleh lah, saya mau sharing sedikit.

Saya tertarik dengan salah satu blog *aduh saya lupa namanya* tapi kurang lebih begini bunyi blognya “Beasiswa itu seperti buah di musim buah. Akan banyak sekali keberadaannya di satu pohon. Hanya orang-orang yang tekun yang berhasil memperolehnya* (aduh maaf, kalau redaksionalnya gelepotan).

Nah, pertanyaannya, apakah saya termasuk orang yang tekun? Nggak tahu juga saya, hehehe. Maksudnya, saya bukan orang yang tekun untuk mencoba seluruh beasiswa yang ada. Bahkan, saya juga belum pernah mencoba daftar beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah negeri sendiri. Yang saya tahu, saat itu, saya pengen sekolah ke luar negeri meski saya nggak ngerti tingkat parah nggak bisa isi aplikasinya (hahahahaaaa! Gubrak!!).

Aplikasi saya kedua ini menyasar ke Australia. setelah gagal di tahap awal untuk nembus Amerika. Alright, saya kurang persiapan saat itu. Akhirnya dalam waktu singkat ada beberapa tahap yang saya bisa lakukan sendiri diluar bantuan dari Encik Guru saya😀
1. Saya pun melakukan research super cepat kekuatan roket. I tried to find out websites which discussed about how tips and tricks to apply a scholarship (waktu itu any kind of scholarship ya). Meski saya mau apply untuk master, tapi, saya nggak boleh merendahkan tingkat master.

2. Saya pun mulai menulis untuk isi aplikasinya. Merangkai kalimat itu nggak gampang. Trust me! Never underestimate to writing field. Writing is art and it means a large amount of time and energy that you will spend. One for sure, you must have your own identity and goal. Don’t ever think to copy and paste others’ ideas and write them. You will be lose! Besides, you have to follow instructions that have been given. Kalau kamu punya teman yang pernah daftar untuk beasiswa yang sama kayak kamu apply, contact them. Nggak usah malu. Ask them apa aja yang kamu bisa lakukan.
3. Kamu bisa minta bantuan dari dosen kamu untuk check spelling dan atau grammar kamu. I did it!!. Soalnya makna dan ketepatan untuk jawab pertanyaan itu penting.

4. Finally, triple or more to re-check. Make sure kalau kamu sudah lengkapi semua berkas yang diminta. Jangan pernah nego dengan dirimu sendiri. Let say, kamu diminta untuk kirimkan legalisir ijazah dan transkrip without further explanation. Lalu, saran saya sih kamu harus kirim legalisir ijazah dan transkrip yang asli (alias cap basah). Jangan kirim yang fotokopian cap-nya. Irit? Ya semuanya pasti akan bilang kalau bisa sih irit aja. Tapi, kesempatan nggak datang dua kali. Karena, percaya nggak percaya, akan timbul pikiran yang nggak-nggak dan kamu akan gelisah setelah kamu kirim bukan yang cap basah. Nyeselnya pasti setengah idup!

Perlakukan beasiswa itu dengan caramu yang paling baik. Or in other words, treat the scholarship with your full respect, copied from my Encik Guru’s words.

5. The last but not least, berdoa! Dia Yang Maha Tahu akan beri segalanya yang paling baik untuk dirimu. Saya sangat yakin bahwa sekolah itu ibadah. Jadi, kalaupun kamu belum berhasil anggap aja professor di universitas yang kamu tuju itu beliau masih sibuk atau nggak ada mata kuliah yang akan bagus untuk kamu. Tapi, kalau kamu lolos, welcome to the next level. Prepare yourself for having an interview and a foreign language test. Good luck!

0

Second Take

Two more days, I’ll take my second take.

 

Nervous? Yes, absolutely. However, many practices have been done. Many prayers have been asked.

 

Bismillah. I’ll accept any result. If it’s not good, I will work hard again. If it’s good, I’ll maintain it by work hard again.

 

The key are work hard and never stop praying. Believe in Allah SWT will give the best for me. A thing that I need.

0

Only have one choice

Ada pengalaman yang berharga ketika saya dapat beasiswa. Saya harus mengikuti pelatihan bahasa dan budaya. Well, saya nggak berani bilang saya ini yang bego-bego amat untuk bahasa Inggris (takut dikeroyok sama teman-teman satu kelas ketika salah satu mereka me-recognise ini blog saya T__T) tapi memang ada lah unsur yang harus ditingkatkan lebih tinggi lagi bahkan lebih tinggi dari Gn. Semeru wkwkwkwkkk. Terus apa dong berharganya?

Berharganya adalah di satu sisi lainnya, saya diterima sebagai dosen permanen di salah satu PTS di Jakarta (tapi bersyukurnya adalah SK saya belum terbit dan saya belum tanda tangan kontrak apapun, Alhamdulillah). Jadi, secara bersamaan, saya harus mengikuti pelatihan dan mengajar di week days dan tempat yang berbeda.

Bagi waktu? Jelas sulit banget. Tapi, kalau seumpama dipaksain pasti bisa. Tapi, minta ijin lah yang paling sulit dari semuanya.
Dapat ijin? Pengennya sih. Tapi, saya mendapatkan kabar buruk. Atasan paling tinggi di perguruan tinggi itu hanya memberikan saya dua pilihan: (1) ambil beasiswa itu dan saya diminta untuk mengundurkan diri karena mereka tidak mengenal kata pemecatan; ATAU (2) lepas beasiswa itu, mengajar dan coba lagi untuk beasiswa S3.

Pilihan sulit, pada awalnya. Bahkan, saya sudah menjatuhkan harga diri saya dengan memberikan tawaran dimana perguruan tinggi tersebut nggak akan rugi sedikit pun. Tapi, nggak mempan pada akhirnya. Belum jodoh, kalau kata orang tua.

Apa yang selanjutnya saya lakukan? Hanya doa dan sembahyang agar seluruh ketakutan dan kekhawatiran saya dihilangkan. Kenapa? Karena saya hanya dihadapkan pada satu pilihan yang akan menentukan nasib saya ke depannya seperti apa. Apa saya akan balik menjadi jobless dan hanya sebagai candidate master student? Atau saya akan tetap menjadi lecturer dan memegang status candidate student? Sementara apabila saya lepas beasiswa ini, berarti saya menyia-nyiakan kesempatan yang nggak akan dua kali datang ke saya karena saya yakin ratusan pelamar beasiswa ini menangis ketika mereka mendapat kabar bahwa mereka gagal.

Sebenarnya saya hanya pasrah sih dan mengikuti kata hati setelah saya doa dan sembahyang. Entah kenapa, hal-hal yang berkaitan dengan sekolah itu seluruhnya indah sekali. Meski, urus dokumennya banyak bangeeet bahkan ribeeeet. Belum lagi, liat jadwal beajarnya yang bikin kepala cekot-cekot padahal baru aja baca belum ngejalanin (wkwkwkk). Tapi, finally, saya memutuskan untuk memilih sekolah dan melepaskan status saya sebagai dosen (saat itu). Sedih, anehnya, saya nggak merasakannya sama sekali. Atau senang? Anehnya, bukan senang tapi saya merasakan sangat lega.

Hidup itu cuma ada satu pilihan. Saya pun selalu dihadapkan dengan hal kayak itu. Take it or leave it! Nggak bisa dua tangan saya memegang dua hal yang beda. Penuh. Saya harus punya satu tangan kosong untuk berpegangan atau merapikan hal yang saya bawa di tangan saya yang satunya. Jadi, salah satunya harus dibuang atau dikembalikan agar dua tangan saya tidak penuh.

In the end, setelah saya ambil pilihan untuk meninggalkan tempat kerja itu, saya dapat hikmahnya. Apa? Tepat dua minggu setelah saya resign, ada panggilan untuk saya jadi calon dosen di perguruan tinggi yang luar biasa besar dan everyone must know it. Note : padahal hasilnya juga belum tahu, apa saya lolos atau nggak?wkwkwkwkwkwkkk. Yang penting, girang dan tertawa dulu lah, hehehe.

Alhamdulillah.